Selasa, 16 Juni 2009

CERITA TAN MALAKA


Nama Tan Malaka tak banyak dikenal orang. Padahal tokoh inilah yang pertama kali tampil dengan gagasan Republik Indonesia. Sebuah republik komunis kiri yang harus dibangun dengan mengusir Belanda. Tan Malaka jelas merupakan bapak Indonesia dan memang tokoh ini adalah pahlawan nasional.

Tapi bagaimana tokoh sepenting Tan Malaka bisa terlupakan dari ingatan umum orang Indonesia? Berikut penjelasan Harry Poeze penulis pelbagai buku tentang Tan Malak.

Kepedihan sejarah
Harry Poeze [HP]: Ini didasarkan atas salah satu brosur yang ditulis Tan Malaka tahun 1924 dalam bahasa Belanda dan namanya Naar de Republiek Indonesia, menuju Republik Indonesia. Dengan resmi ini pertamakali disebut nama Republik dan Indonesia secara bersama. Karena itu Tan Malaka diberi gelar bapak Republik Indonesia. Ini sebelum Hatta dan Soekarno menyebut Republik Indonesia.

Yang ironis sekali bahwa waktu proklamasi Republik Indonesia Tan Malaka di Jakarta, tapi tidak ikut upacara proklamasi itu. Karena tidak tahu bahwa ada proklamasi Republik Indonesia. Dan ini disebut dalam satu brosur yang ditulis Adam Malik seperti kepedihan sejarah. Tan Malaka sendiri juga dalam buku otobiografi Dari Penjara ke Penjara sangat menyesal bahwa ia tidak ikut upacara itu. Ya, ini perwujudan cita-cita yang di dalam hati sanubari Tan Malaka selama 20 tahun.

Panduan aksi perlawanan
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Menuju Republik Indonesia waktu itu apa yang sebenarnya ditulis oleh Tan Malaka di dalam brosur itu?

HP: Brosur itu seperti panduan aksi melawan kolonialisme melawan Belanda. Dan ini juga harus dipakai oleh Partai Komunis Indonesia dalam melawan kolonialisme Belanda.

RNW: Panduan aksi, tapi bukan aksi militer?

HP: Panduan masa aksi, misalnya pemogokan dan juga aksi bersenjata, pemberontakan. Tapi sebelumnya harus ada masa aksi dalam bentuk demonstrasi dan pemogokan.

Kiri yang ternoda
RNW: Dengan buku "Naar de Republik Indonesia", menuju Republik Indonesia itu tampaknya gagasan Republik Indonesia yang ada dalam sanubari dan benak Tan Malaka adalah gagasan Republik Indonesia yang komunis, yang kiri ya?

HP: Yang kiri, ya. Yang komunis, waktu itu. Tapi komunis ini kata yang sangat ternoda sekarang. Waktu itu Partai Komunis salah satu partai yang melawan Belanda dan juga salah satunya yang bekerja atas dasar Indonesia. Bukan atas dasar Jawa, atas dasar Sumatera atau dasar agama. Waktu itu ada Budi Oetomo, dasarnya Jawa, ada Sarikat Islam dasarnya islam. Tapi partai Nasionalis belum ada. Ini hanya sesudah Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia tahun 1927 baru ada partai Nasionalis sejati di Indonesia. Tapi sebelumnya salah satunya partai nasionalis PKI.

RNW: Karena itu kita sekarang sampai pada jaman Orde Baru, ketika Tan Malaka dihujat dan dilupakan. Mengapa Orde Baru menurut Pak Harry Poeze perlu melupakan dan menghujat orang seperti Tan Malaka? Dia kan sudah meninggal dunia, sudah dibunuh sebelum peristiwa G30S?

HP: Ada beberapa sebab saya kira. Tan Malaka walaupun pahlawan nasional juga dianggap seperti seorang kiri, seorang komunis. Dan Orde Baru tidak bisa melihat perbedaan antara kiri dan komunis. Dan tulisan Tan Malaka bagiannya ialah didasarkan atas ideologi komunis. Tapi juga dengan diterapkan untuk situasi Indonesia.

Ini saya kira Orde Baru tidak bisa membedakan antara kiri, komunis, Tan Malaka dan semuanya. Karena tidak tahu persis lebih baik untuk melupakan sama sekali warisan Tan Malaka itu.

Pahlawan nasional
RNW: Padahal beliau adalah pahlawan yang menggagas Republik Indonesia ya?

HP: Betul, dan tidak bisa ditiadakan. Sekali gelar pahlawan nasional diberikan, tidak bisa ditiadakan lagi. Tapi dalam daftar di sekolah waktu itu ada buku sekolah dengan riwayat hidup ringkas semua pahlawan nasional. Tapi selalu Tan Malaka dilupakan, dicoret dari sejarah samasekali.

Karena itu sesudah Soeharto digulingkan tidak ada orang yang tahu Tan Malaka. Ia seorang yang samsekali dicoret dari buku sejarah, buku sekolah tidak disebut. Ini pemalsuan sejarah Indonesia yang dilaksanakan oleh Orde Baru. Dan tidak hanya mengenai Tan Malaka tapi mengenai banyak hal lain.

Perjuangan

Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

mantap